8 Cara Lebih Bahagia di Tempat Kerja

okezone.com
DALAM film "Horrible Bosses" tiga orang karyawan yang diperankan Jennifer Aniston, Colin Farrel, dan Jason Batemen mencetuskan ide gila. Yaitu untuk berbahagia di tempat kerja, harus membunuh atasan mereka yang diperankan oleh Kevin Spacey.

Realitanya, tindakan konyol itu hanya akan membuat kita mendekam di penjara dan menjalani hukuman yang setimpal. Untuk merasa bahagia di kantor, ada cara yang paling efektif dan mudah.

Untuk membuat Anda lebih bahagia, lebih kreatif dan lebih produktif di tempat kerja, cara yang dilansir Cosmopolitan berikut bisa Anda coba.

Memajang karangan bunga mini di cubicle
Peneliti menemukan, rangkaian bunga asli di tempat kerja membuat karyawan lebih produktif mencetuskan ide segar ketimbang hanya bunga plastik.

Bikin atasan menyukai Anda
Searah ke tempat parkir bersama bos? Pasang muka manis dan katakan betapa Anda menyukai kerja sama baik dalam proyek yang baru dilakoni. Alasannya sederhana, jika dia menyukai Anda, dia tidak akan memecat Anda begitu saja. Bisa jadi sebuah posisi menarik akan ditawarkan kepada Anda di lain waktu.

Diburu deadline? Cari sisi positifnya!

Penelitian membuktikan, mereka yang mampu menikmati waktunya di saat paling stres, akan membuat stresnya terasa lebih berkurang. Menarik bukan?

Makan siang bareng teman baik setiap Jumat

Penelitian yang dipublikasikan oleh American Psychological Association menyebutkan, mereka yang akrab dengan rekan kerja di kantor akan merasa lebih bersemangat di tempat kerja.

Seimbangkan antara kerja dan kesenangan
Stres memang sesuatu yang tidak bisa dihindari. Untuk membuat Anda merasa lebih baik, ambil waktu 15 menit melakukan apa yang disukai, dan kembali melanjutkan pekerjaan. Dengan begitu, jiwa Anda akan merasa tenang.

Multitasking itu perlu!
Sebuah studi menemukan karyawan tidak akan mengalami kejenuhan jika mereka bisa menyelesaikan deadline sambil melakukan pekerjaan lain.

Tonton video lucu 
Untuk mengembangkan mood positif, mengapa tidak menyaksikan video-video lucu di You Tube. Setidaknya hal ini Anda lakukan usai mengerjakan deadline yang diminta atasan.

Merencanakan liburan 
Peneliti menemukan, karyawan yang bahagia ialah karyawan yang selalu berlibur. Maka, lain kali Anda merasa jenuh di kantor mengapa tidak mengambil cuti dan merencanakan liburan bersama teman-teman dekat.

8 Kesalahan Membuat Resume Kerja

okezone.com
TERNYATA, banyak kesalahan yang dilakukan pencari kerja pada resume yang mereka buat. Pastikan Anda menghindarinya untuk memikat minat perusahaan yang dituju.

Simak delapan kesalahan umum dalam resume, seperti diulas Yahoo:

Terlalu berfokus pada pengalaman kerja
Resume Anda tidak harus menjadi daftar pengalaman kerja yang membosankan. Tunjukkan kualitas diri yang diperlukan perusahaan dengan memberikan contoh-contoh spesifik.
Ketika “menjual” diri, tanyakan hal berikut:

1. Bagaimana Anda melakukan pekerjaan yang lebih baik daripada pelamar lain?
2. Apa masalah atau tantangan yang dihadapi? Bagaimana Anda mengatasinya? Apa hasilnya? Bagaimana perusahaan mendapatkan keuntungan dari kinerja Anda?
3. Apakah Anda menerima penghargaan, pengakuan khusus, atau promosi sebagai kompensasinya?

Menggunakan pernyataan biasa
Banyak pelamar kehilangan kesempatan sejak pertama lamarannya dibaca. Pernyataan, seperti "posisi menantang memungkinkan saya untuk berkontribusi pada tujuan perusahaan sekaligus menawarkan kesempatan untuk maju dan berkembang" tergolong berlebihan, terlalu umum, dan potensi dibuang ke tempat sampah. Berikan pernyataan soal kemampuan atau keahlian Anda secara eksplisit.

Terlalu pendek atau terlalu panjang
Banyak pelamar menggambarkan pengalaman kerja mereka hingga satu halaman. Terlalu panjang, Anda hanya akan menghapus kesan pertama di mata perusahaan.

Sebenarnya, tidak ada aturan tentang panjang resume yang ideal. Namun saat menulis resume, tanyakan pada diri, "Apakah pernyataan ini membantu saya di wawancara nanti?". Sebab, setiap kata harus mampu menjual diri Anda.

Menggunakan kata ganti pribadi
Resume adalah sebuah bentuk komunikasi bisnis, jadi harus singkat dan efektif. Juga, hindari menyebutkan kata ganti "aku".

Daftar informasi yang tidak relevan
Anda boleh menyebutkan hobi, tetapi pastikan memang berkaitan dengan bidang pekerjaan yang dituju. Sebagai contoh, jika Anda melamar posisi instruktur yoga, maka sebutkan seberapa sering Anda latihan.

Informasi pribadi, seperti tanggal lahir, status pernikahan, tinggi dan berat badan, tidak harus disebutkan kecuali Anda artis atau pencari kerja di luar negeri.

Tidak menyertakan ringkasan
Ini adalah salah satu alat yang digunakan mayoritas perusahaan. Dengan ini, mereka akan tahu keterampilan dan kompetensi penting Anda terhadap posisi yang dituju. Ringkasan karier harus menunjukkan tingkat keterampilan dan pengalaman yang langsung berkaitan dengan posisi yang dicari.

Jadi, baca dengan teliti lowongan pekerjaan untuk Anda menentukan apa yang dibutuhkan perusahaan. Selanjutnya, cocokkan dengan pengalaman kerja, keterampilan, dan pendidikan Anda. Masukkan pengalaman-pengalaman tersebut ke dalam resume Anda.

Tidak menggunakan kata kunci
Dengan begitu banyak perusahaan menggunakan teknologi untuk menyimpan resume, satu-satunya harapan pencari kerja hingga mudah ditemukan adalah dengan menggunakan kata kunci yang relevan dengan resume. Caranya, baca deskripsi pekerjaan yang menarik minat Anda, lalu cari kata-kata yang Anda sebut berulang-ulang di dalamnya. Itulah kata kunci resume Anda.

Mengabaikan referensi
Pencari kerja turut mengandalkan informasi tentang Anda dari referensi nama yang Anda sebutkan. Jadi, pilih benar siapa yang akan menjadi referensi Anda, yang bisa memberikan informasi benar soal Anda.

10 Rahasia Sukses Orang-Orang Jepang


 johan.ilmugrafis.org
Apa sajakah sikap-sikap orang Jepang yang bisa kita contoh biar bisa sukses kayak bangsa mereka ?? Berikut adalah 10 rahasia Sukses orang Jepang
1. Kerja Keras
Sudah menjadi rahasia umum bahwa bangsa Jepang adalah pekerja keras. Rata-rata jam kerja pegawai di Jepang adalah 2450 jam/tahun, sangat tinggi dibandingkan dengan Amerika (1957 jam/tahun), Inggris (1911 jam/tahun), Jerman (1870 jam/tahun), dan Perancis (1680 jam/tahun). Seorang pegawai di Jepang bisa menghasilkan sebuah mobil dalam 9 hari, sedangkan pegawai di negara lain memerlukan 47 hari untuk membuat mobil yang bernilai sama. Seorang pekerja Jepang boleh dikatakan bisa melakukan pekerjaan yang biasanya dikerjakan oleh 5-6 orang. Pulang cepat adalah sesuatu yang boleh dikatakan “agak memalukan” di Jepang, dan menandakan bahwa pegawai tersebut termasuk “yang tidak dibutuhkan” oleh perusahaan.

2. Malu
Malu adalah budaya leluhur dan turun temurun bangsa Jepang. Harakiri (bunuh diri dengan menusukkan pisau ke perut) menjadi ritual sejak era samurai, yaitu ketika mereka kalah dan pertempuran. Masuk ke dunia modern, wacananya sedikit berubah ke fenomena “mengundurkan diri” bagi para pejabat (mentri, politikus, dsb) yang terlibat masalah korupsi atau merasa gagal menjalankan tugasnya. Efek negatifnya mungkin adalah anak-anak SD, SMP yang kadang bunuh diri, karena nilainya jelek atau tidak naik kelas. Karena malu jugalah, orang Jepang lebih senang memilih jalan memutar daripada mengganggu pengemudi di belakangnya dengan memotong jalur di tengah jalan. Mereka malu terhadap lingkungannya apabila mereka melanggar peraturan ataupun norma yang sudah menjadi kesepakatan umum.

3. Hidup Hemat
Orang Jepang memiliki semangat hidup hemat dalam keseharian. Sikap anti konsumerisme berlebihan ini nampak dalam berbagai bidang kehidupan. Di masa awal mulai kehidupan di Jepang, saya sempat terheran-heran dengan banyaknya orang Jepang ramai belanja di supermarket pada sekitar jam 19:30. Selidik punya selidik, ternyata sudah menjadi hal yang biasa bahwa supermarket di Jepang akan memotong harga sampai separuhnya pada waktu sekitar setengah jam sebelum tutup. Seperti diketahui bahwa Supermarket di Jepang rata-rata tutup pada pukul 20:00.
4. Loyalitas
Loyalitas membuat sistem karir di sebuah perusahaan berjalan dan tertata dengan rapi. Sedikit berbeda dengan sistem di Amerika dan Eropa, sangat jarang orang Jepang yang berpindah-pindah pekerjaan. Mereka biasanya bertahan di satu atau dua perusahaan sampai pensiun. Ini mungkin implikasi dari Industri di Jepang yang kebanyakan hanya mau menerima fresh graduate, yang kemudian mereka latih dan didik sendiri sesuai dengan bidang garapan (core business) perusahaan.

5. Inovasi
Jepang bukan bangsa penemu, tapi orang Jepang mempunyai kelebihan dalam meracik temuan orang dan kemudian memasarkannya dalam bentuk yang diminati oleh masyarakat. Menarik membaca kisah Akio Morita yang mengembangkan Sony Walkman yang melegenda itu. Cassete Tape tidak ditemukan oleh Sony, patennya dimiliki oleh perusahaan Phillip Electronics. Tapi yang berhasil mengembangkan dan membundling model portable sebagai sebuah produk yang booming selama puluhan tahun adalah Akio Morita, founder dan CEO Sony pada masa itu. Sampai tahun 1995, tercatat lebih dari 300 model walkman lahir dan jumlah total produksi mencapai 150 juta produk. Teknik perakitan kendaraan roda empat juga bukan diciptakan orang Jepang, patennya dimiliki orang Amerika. Tapi ternyata Jepang dengan inovasinya bisa mengembangkan industri perakitan kendaraan yang lebih cepat dan murah.

6. Pantang Menyerah
Sejarah membuktikan bahwa Jepang termasuk bangsa yang tahan banting dan pantang menyerah. Puluhan tahun dibawah kekaisaran Tokugawa yang menutup semua akses ke luar negeri, Jepang sangat tertinggal dalam teknologi. Ketika restorasi Meiji (meiji ishin) datang, bangsa Jepang cepat beradaptasi dan menjadi fast-learner. Kemiskinan sumber daya alam juga tidak membuat Jepang menyerah. Tidak hanya menjadi pengimpor minyak bumi, batubara, biji besi dan kayu, bahkan 85% sumber energi Jepang berasal dari negara lain termasuk Indonesia . Kabarnya kalau Indonesia menghentikan pasokan minyak bumi, maka 30% wilayah Jepang akan gelap gulita Rentetan bencana terjadi di tahun 1945, dimulai dari bom atom di Hiroshima dan Nagasaki , disusul dengan kalah perangnya Jepang, dan ditambahi dengan adanya gempa bumi besar di Tokyo . Ternyata Jepang tidak habis. Dalam beberapa tahun berikutnya Jepang sudah berhasil membangun industri otomotif dan bahkan juga kereta cepat (shinkansen) . Mungkin cukup menakjubkan bagaimana Matsushita Konosuke yang usahanya hancur dan hampir tersingkir dari bisnis peralatan elektronik di tahun 1945 masih mampu merangkak, mulai dari nol untuk membangun industri sehingga menjadi kerajaan bisnis di era kekinian. Akio Morita juga awalnya menjadi tertawaan orang ketika menawarkan produk Cassete Tapenya yang mungil ke berbagai negara lain. Tapi akhirnya melegenda dengan Sony Walkman-nya. Yang juga cukup unik bahwa ilmu dan teori dimana orang harus belajar dari kegagalan ini mulai diformulasikan di Jepang dengan nama shippaigaku (ilmu kegagalan). Kapan-kapan saya akan kupas lebih jauh tentang ini

7. Budaya Baca
Jangan kaget kalau anda datang ke Jepang dan masuk ke densha (kereta listrik), sebagian besar penumpangnya baik anak-anak maupun dewasa sedang membaca buku atau koran. Tidak peduli duduk atau berdiri, banyak yang memanfaatkan waktu di densha untuk membaca. Banyak penerbit yang mulai membuat man-ga (komik bergambar) untuk materi-materi kurikulum sekolah baik SD, SMP maupun SMA. Pelajaran Sejarah, Biologi, Bahasa, dsb disajikan dengan menarik yang membuat minat baca masyarakat semakin tinggi. Saya pernah membahas masalah komik pendidikan di blog ini. Budaya baca orang Jepang juga didukung oleh kecepatan dalam proses penerjemahan buku-buku asing (bahasa inggris, perancis, jerman, dsb). Konon kabarnya legenda penerjemahan buku-buku asing sudah dimulai pada tahun 1684, seiring dibangunnya institute penerjemahan dan terus berkembang sampai jaman modern. Biasanya terjemahan buku bahasa Jepang sudah tersedia dalam beberapa minggu sejak buku asingnya diterbitkan.

8. Kerjasama Kelompok
Budaya di Jepang tidak terlalu mengakomodasi kerja-kerja yang terlalu bersifat individualistik. Termasuk klaim hasil pekerjaan, biasanya ditujukan untuk tim atau kelompok tersebut. Fenomena ini tidak hanya di dunia kerja, kondisi kampus dengan lab penelitiannya juga seperti itu, mengerjakan tugas mata kuliah biasanya juga dalam bentuk kelompok. Kerja dalam kelompok mungkin salah satu kekuatan terbesar orang Jepang. Ada anekdot bahwa “1 orang professor Jepang akan kalah dengan satu orang professor Amerika, hanya 10 orang professor Amerika tidak akan bisa mengalahkan 10 orang professor Jepang yang berkelompok” . Musyawarah mufakat atau sering disebut dengan “rin-gi” adalah ritual dalam kelompok. Keputusan strategis harus dibicarakan dalam “rin-gi”.

9. Mandiri
Sejak usia dini anak-anak dilatih untuk mandiri. Irsyad, anak saya yang paling gede sempat merasakan masuk TK (Yochien) di Jepang. Dia harus membawa 3 tas besar berisi pakaian ganti, bento (bungkusan makan siang), sepatu ganti, buku-buku, handuk dan sebotol besar minuman yang menggantung di lehernya. Di Yochien setiap anak dilatih untuk membawa perlengkapan sendiri, dan bertanggung jawab terhadap barang miliknya sendiri. Lepas SMA dan masuk bangku kuliah hampir sebagian besar tidak meminta biaya kepada orang tua. Teman-temen seangkatan saya dulu di Saitama University mengandalkan kerja part time untuk biaya sekolah dan kehidupan sehari-hari. Kalaupun kehabisan uang, mereka “meminjam” uang ke orang tua yang itu nanti mereka kembalikan di bulan berikutnya.

10. Jaga Tradisi & Menghormati Orang Tua
Perkembangan teknologi dan ekonomi, tidak membuat bangsa Jepang kehilangan tradisi dan budayanya. Budaya perempuan yang sudah menikah untuk tidak bekerja masih ada dan hidup sampai saat ini.
Budaya minta maaf masih menjadi reflek orang Jepang. Kalau suatu hari anda naik sepeda di Jepang dan menabrak pejalan kaki , maka jangan kaget kalau yang kita tabrak malah yang minta maaf duluan.
Sampai saat ini orang Jepang relatif menghindari berkata “tidak” untuk apabila mendapat tawaran dari orang lain. Jadi kita harus hati-hati dalam pergaulan dengan orang Jepang karena “hai” belum tentu “ya” bagi orang Jepang Pertanian merupakan tradisi leluhur dan aset penting di Jepang. Persaingan keras karena masuknya beras Thailand dan Amerika yang murah, tidak menyurutkan langkah pemerintah Jepang untuk melindungi para petaninya. Kabarnya tanah yang dijadikan lahan pertanian mendapatkan pengurangan pajak yang signifikan, termasuk beberapa insentif lain untuk orang-orang yang masih bertahan di dunia pertanian. Pertanian Jepang merupakan salah satu yang tertinggi di dunia.